Jumat, 11 September 2009

ARTIKEL: MENGENALI PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK

Setiap orang tua pasti menginginkan sutu perkembangan yang baik dalam fase hidup anak-anaknya, baik berupa fisik maupun kejiwaan. Memang secara tampilan, perkembangan fisik terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan kejiwaan. Bahkan terkadang kita perlu lebih awas dalam memperhatikan perkembangan kejiwaan anak karena nantinya hal tersebut akan berhubungan dengan pembentukan identitas diri dan kepribadian anak tersebut. Lebih lanjut, kita akan mendiskusikan mengenai perkembangan kejiwaan anak secara detil , khususnya usia anak pra sekolah (mulai dari usia 4 tahun) sampai dengan masa sekolah (usia 12 tahun / sebelum pubertas).

Konsep Diri
Pada usia 4 tahun, anak-anak berusaha mendefinisikan dirinya menjadi lebih komprehensif sebagaimana mereka mulai mengidentifikasikan sekelompok karakteristik untuk menggambarkan dirinya masing-masing. Umumnya, mereka lebih banyak bercerita tentang hal konkret, perilaku yang diamati, karakteristik eksternal seperti penampilan fisik, kesenangan, kepemilikan, dan anggota keluarga yang tinggal serumah. Mereka juga akan menggambarkan dirinya seringkali dengan apa yang mereka pikirkan mengenai dirinya sendiri, nyaris tak dapat dipisahkan dari apa yang mereka lakukan sehari-hari.
Berikut ini, analisis dilakukan berdasarkan neo Piaget yang dapat menggambarkan perkembangan anak-anak dalam 3 tahap, dimana perkembangan tersebut membentuk peningkatan yang berkelanjutan, yaitu:
Tahap I : Pada usia 4 tahun, anak-anak menyatakan dirinya sendiri adalah representasi tunggal dimana hanya mencakup satu dimensi saja. Pemikiran mereka seringkali berpindah-pindah dari satu hal ke hal lainnya , tanpa terhubung secara logis. Pada tahap ini, ia tidak dapat membayangkan bahwa ia memiliki dua emosi pada waktu yang sama karena dasar pemikirannya adalah all or nothing.
Tahap II : Berlanjut pada usia 5 sampai 7 tahun dimana anak-anak mulai menghubungkan satu aspek dari dirinya dengan hal lain. Mereka melakukan pemetaan representasi dengan membentuk hubungan antara bagian dari pandangan dirinya terhadap dirinya sendiri – masih diekspresikan dalam hal positif, yaitu all or nothing. Oleh karena baik dan buruk itu berlawanan, maka mereka tidak melihat bagaimana mereka bisa baik dalam beberapa hal dan tidak pada hal lainnya.
Tahap III : Terjadi pada usia sekolah (7 – 12 tahun), dimana anak-anak mulai melakukan sistem representasi. Mereka mulai mengintegrasikan hal-hal yang spesifik ke dalam hal-hal general (konsep multidimensi). Di sisi lain, konsep pemikiran all or nothing semakin berkurang dan penggambaran diri anak menjadi lebih seimbang.

Memahami Emosi Anak
Anak-anak mengetahui sesuatu mengenai perasaan mereka tetapi mereka harus banyak belajar. Oleh karena itu, dengan memahami emosi mereka sendiri akan membantu anak-anak untuk mengontrol cara mereka menunjukkan perasaannya dan menjadi sensitif terhadap perasaan orang lain. Permasalahan yang muncul menjadi dua dimensi, yaitu kualitas emosi dan target di depan yang dituju. Penelitian Harte & Buddin, 1987, menyatakan bahwa anak-anak secara bertahap mendapatkan suatu pengertian mengenai emosi secara simultan antara usia 4 sampai 12 tahun (Harter, 1996) sebagaimana mereka bergerak melalui 5 level perkembangan, yaitu:
Level 0 : Pada awalnya, anak-anak tidak mengerti bahwa perasaan dapat muncul secara bersamaan pada waktu yang sama. Anak-anak yang berada pada tahap representasi tunggal dapat berkata, “Kamu tidak bisa memiliki dua perasaan pada waktu yang sama karena kamu hanya memiliki satu pikiran!”
Level 1 : Anak-anak mulai mengenmbangkan kategori yang berbeda – emosi positif dan negatif – dan dapat membedakan emosi dalam setiap kategori, seperti senang dan bahagia, atau marah dan sedih. Mereka dapat menyadari keberadaan dua emosi pada waktu yang bersamaan tetapi hanya jika keduanya positif atau negatif serta terarah pada target yang sama. Anak pada level ini tidak dapat mengerti kemungkinan merasakan emosi simultan dalam menghadapi dua orang yang berbeda atau merasakan emosi yang berbeda pada orang yang sama.
Level 2 : Anak mampu dalam pemetaan representasi dimana dapat menyadari dirnya memiliki dua perasaan yang terarah pada target yang berbeda. Tetapi mereka tetap saja tidak dapat mengalami dirinya memiliki perasaan-perasaan yang berbeda.
Level 3: Anak yang telah mengembangkan sistem representasidapat mengintegrasikan emosi positif dan negatif. Mereka mulai dapat mengerti bahwa mereka bisa memiliki perasaan yang berbeda pada waktu yang sama, tetapi hanya jika terarah pada target yang berbeda sehingga mereka tidak dapat menyadari dirinya memiliki perasaan positif dan negatif terhadap keduanya.
Level 4 : Anak-anak dapat menggambarkan perasaan-perasaan yang berbeda terhadap target yang sama.

Perkembangan Psikososial
Selain konsep diri dan perkembangan emosi, kita juga dapat melihat dari perkembangan psikososial. Dari berbagai ahli yang menyusun teori tentang tingkat perkembangan anak, Erick Erickson adalah salah satu ahli yang mengkhususkan diri dalam perkembangan kejiwaan sosial manusia. Ia mengembangkan teorinya dengan membuat delapan tahap psikososial yang mencakup seluruh rentang kehidupan, meneliti perkembangan identitas, dan mengembangkan metode yang berbeda dari seting psikoanalitik terstruktur yang digunakan dengan orang dewasa. Tiap tahapan ini dibangun berdasarkan tahap sebelumnya dan mempengaruhi pembentukan tahap yang berikutnya.
Penitikberatan teori Erickson sendiri terletak pada pencarian identitas. Identitas adalah pemahaman dan penerimaan diri dan masyarakat. Sepanjang hidup kita akan bertanya “Siapakah saya?” dan merangkai jawaban berbeda pada setiap tahap. Begitu juga masalah identitas selalu mmuncul sepanjang hidup manusia walaupun dalam skala yang amat kecil.
Bila dilihat dari range usianya khususnya usia 4 sampai 12 tahun, maka dalam tahapan psikososial Erickson dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tahap 3 ; Initiative Vs Guilt
Ketika seorang anak berada pada usia 4 sampai 5 tahun, mereka mulai belajar dari orang-orang di sekelilingnya. Mereka mengenali orang tua mereka sebagai sosok yang berkuasa dan kuat. Mereka juga mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Kemampuan berinisiatif dalam mengambil keputusan untuk mencapai target dan kompetisi juga mulai timbul dalam pikiran mereka. Hal ini didukung oleh kemajuan alat gerak, bahasa, kognisi, dan kreatifitas. Apabila mereka bisa memecahkan suatu masalah, maka inisiatif akan timbul dalam diri anak tersebut sedangkan apabila sebaliknya maka akan timbul perasaan bersalah. Pada tahap ini, anak telah belajar bahwa ia harus bekerja keras untuk mencapai tujuannya (Wrightsman, 1994).
Tahap 4 ; Industry Vs Inferiority
Tahap ini terjadi pada usia 6 tahun samapai mereka memasuki masa pubertas, dimana pada usia ini mereka mulai sekolah dan menjadi ahapan yang lebih besar bagi pengetahuan dan pekerjaan mereka. Mereka mulai memasuki tahapan baru dimana mereka mulai diperkenalkan dengan sistem pendidikan formal dan teknologi baru yang digunakan dalam kegiatan sekolah. Apabila seseorang bisa melalui tahapan ini maka akan timbul sense of industry, seperti perasaan mampu dan menguasai sesuatu. Sedangkan apabila gagal maka akan mucul perasaan ketidakcukupan dan rendah diri.

Kesimpulan
Dari berbagai penjelasan yang dipaparkan sebelumnya, maka orang tua memang perlu memperhatikan perkembangan kejiwaan anak semenjak dini. Dengan begitu, maka setelah dewasa nanati, anak tersebut akan menjadi sosok yang dewasa dan tangguh dalam menghadapi setiap permasalahan sehingga kejadian seperti bunuh diri, depresi, dll dapat terhindari.
Selamat Hari Parheheon Sekolah Minggu HKBP Semper semoga Anak-Anak Sekolah Minggu semakin kokoh dan tangguh baik secara pemikiran maupun kejiwaannya. Tuhan Memberkati.

Daftar Pustaka
Papalia, Diane E, et al. 2001. Human Development. New York: McGrw-Hill
Wrightsman, Lawrence S. 1994. Adult Personality Development. California: Sage Publications.

(Penulis adalah Briggita Anggraini Radjagukguk, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Maret 2009)

Tidak ada komentar: